Sejarah Berdirinya BINUS

December 24, 2008 at 10:16 am Leave a comment

WIDIA SOERJANINGSIH
SEMUA BERAWAL DARI NOL

Mungkin banyak yang tahu, Universitas Bina Nusantara (UBiNus) adalah
salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta, bahkan di Indonesia.
Universitas pertama yang meraih Sertifikasi ISO-9001 ini memiliki
lebih dari 20 ribu mahasiswa, 700 dosen, tiga kampus yang megah,
meraih penghargaan “The Best Indonesian Net Company” dan belakangan
punya citra sebagai cybercampus. Tapi barangkali sedikit yang tahu
bagaimana seorang Widia Soerjaningsih dan ayahnya (alm) Wibowo,
mengawali dan membangun universitas ini dari sebuah kursus komputer
di teras rumah. UBiNus benar-benar diawali dengan modal ide dan
keberanian belaka. “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan pasti
ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus,”
demikianlah cara Wibowo menempa semangat putrinya.

Tapi, bagaimana bisa sebuah kursus komputer berkembang sedemikian
pesat hingga menjelma menjadi universitas besar? Barangkali salah
satu faktornya adalah karena pada masa 70-an, bidang garap teknologi
komputer masih jarang dilirik dan dikuasai orang. Justru yang
menarik, awalnya lembaga pendidikan ini dibangun dengan prinsip ‘asal
kelasnya penuh’ dan ‘pelanggan puas’. “Prinsipnya begitu mereka mau
mendaftar, saya harus melayani mereka dengan baik. Tidak ada target
apa-apa, yang penting setiap kelas harus penuh,” tutur Widia yang
lahir 19 Oktober 1950 di Malang itu.

Dengan prinsip demikian, diakui Widia, semula UBiNus tumbuhan biasa-
biasa saja. Begitu tujuan-tujuan berhasil didefinisikan, tim yang
dipimpinnya merapatkan barisan dan target-target dikejar, laju
perkembangannya pun makin pesat. Tak kalah penting adalah adanya visi
ke depan yang begitu kuat, profesionalisme dalam mengelola manajemen
perguruan tinggi, serta jiwa entrepreneurship yang diwarisi Widia
dari sang ayah. Maka, tak berlebihan jika di dunia pendidikan tinggi
di Indonesia, rektor UBiNus ini adalah salah satu sosok yang layak
dijadikan teladan.

Widia yang menikah dengan Eko Atmo Budi Santoso ini, berhasil
mengawinkan antara idealisme dunia pendidikan dengan sistem
pengelolaan bisnis profesional. Tak heran jika pada 2002 lalu ia
dinobatkan sebagai The Famous Business Woman dan The Best CEO versi
Majalah SWA dan MarkPlus. Nah, spirit apa yang membawa ibu dari
Stephen (25), Francis (22), dan Patrice (18) ini ke tangga kesuksesan
hingga sekarang? Simak wawancara eksklusif Widia Soerjaningsih dengan
Edy Zaqeus dari InMagz.Com di gedung rektorat UBiNus Jl KH Syahdan 9,
Kemanggisan, Jakarta berikut ini:

Bagaimana sejarah awal berdirinya Universitas BiNus ini?
Saya lulus S-1 bidang elektro, tapi bidang yang paling menarik adalah
komputer. Lalu kerja praktek di IBM tiga bulan, sesudah itu pernah
kerja di Pertamina tahun 1973. Saya kemudian terinpsirasi oleh idenya
Pertamina. Pada waktu saya kerja, plan Pertamina memang untuk membuat
Achademy of Computer Technology. Zamannya Pak Ibnu Sutowo itu tahun
1973. Kita direkrut untuk menyiapkan teaching staff. Karena
pengalaman saya belajar di IBM, saya disuruh mengajar teman-teman
yang dikumpulkan untuk menjadi guru di fakultas teknik. Ngajar segala
macam bersama kawan-kawan dari (Universitas) Trisakti. Sempat setahun
di sana. Pas saya berhenti itu Pertamina mulai agak jatuh. Saya
berhenti dari Pertamina bukan karena itu, tapi karena ditarik
Trisakti kembali. Karena adik harus masuk perguruan tinggi, dari
keluarga ndak ada biaya, jadi saya punya tugas. Saya kerja di
Trisakti, adik masuk. Terus sambil lalu, karena punya pengetahuan
komputer, coba usaha di Trisakti kursus komputer bersama teman-teman.
Adanya di Trisakti, awalnya itu….wah banyak muridnya. Tapi
biasalah, kalau kita masih muda, apalagi seumur membuat usaha
bersama, akhirnya nggak bisa langgeng.

Usia Anda berapa waktu itu?
Ya, di umur-umur S-1 berapa yah…sekitar 24. Kemudian dari situ
sempat kita jalankan satu biro diklat. Dapat muridnya banyak. Dulunya
mahasiswa menganggap komputer susah, kan? Tempatnya di Trisakti waktu
sore, dan memang karena membawa korps pesertanya banyak. Yang
mengamati langkah ini ayah, Pak Wibowo almarhum. Begitu saya selesai
kuliah, dari semua pengalaman tadi, kayaknya ada potensi untuk
dijual… Kebetulan ayah memang orang wirausaha. Sudah, disuruh buka
kursus sendiri. Padahal anak-anak lulusan S-1 mana mau ya disuruh
begitu? Maunya cari kerja ya? Karena berpikir lulus S-1 bisa apa sih?
Padahal kalau kita kerja sama orang, kita masih diajari, kan? Anak-
anak yang baru lulus biasanya pandangannya seperti itu. Saya ya sama
waktu itu. Makanya, disuruh kerja sendiri…”Wah saya harus belajar
pada siapa nih?” Ilmunya mentok, begitu kalau dipikir.

Tapi waktu itu berani juga?
Ya, karena saya termasuk yang nurut. Ya sudahlah, ndak usah kerja
sama orang. Kalau kerja sama orang bisa stug, naiknya pun pelan. Tapi
kalau kerja sendiri, yang pasti kalau mau naik bisa tergantung usaha
kita. Sudah, saya didukung menjalankannya. Akhirnya bagi tugas, saya
bagian akademik, ayah bagian pemasaran dan perizinan. Dan kita
mulainya di muka rumah, di teras. Rumah di Grogol, Jl Makaliwe I
No.10. Yang sampai sekarang akhirnya kita beli sebagai
apa….momentum, biar pun kita belum bangun sampai saat ini. Kita
terima malah rumah itu ndak ada tutup, kecil ruangannya cuma dikasih
bangku-bangku. Paling banyak menampung 15 orang. Strategi pemasaran
kita lakukan door to door, murah meriah ya… ke tetangga-tetangga
banyak mahasiswa, kan? Yang kos itu anak Trisakti, anak Untar.
Kebetulan memang di kampus Trisakti, komputer itu menjadi momok
mahasiswa. Ekstranya, ini logicalnya gimana sih? Menata logical
berpikir, kan itu? Kalau nggak bisa nangkap, kan bingung mau mulai
dari mana? Tapi ternyata pesertanya ndak hanya mahasiswa. Banyak juga
orang-orang dari perusahaan. Cuma saya tahunya belakangan, “Saya dulu
belajar di situ”. Tahun 1974 kita mulai.

Di awal pendirian kursus itu, apa hambatannya?
Hambatannya itu dari segi saya yang memulai, otomatis antara percaya
dan tidak percaya, bisa saya jalankan nggak? Itu pertama. Tapi karena
didorong terus oleh ayah, akhirnya ya sudah…. Kebetulan prinsip
saya, kalau saya melangkah saya harus melangkah lebih baik. Itu
prinsip yang saya lakukan. Jadi ndak pernah mundur kalau sudah berani
melangkah. Itu semangatnya yang menang. Hambatannya, saya tidak
berpikir banyak hambatan karena saya juga tidak mempunyai suatu
ambisi yang terlalu terang-terangan. Jadi kalau kelasnya penuh,
berhasil! Iya, kan? Yang penting biaya hidup keluarga tertutup
ha..ha..ha.. Dan memang kehidupan keluarga kita digantungkan ke
tangan kita. Prinsipnya begitu mereka mau mendaftar, saya harus
melayani mereka dengan baik. Tidak ada target apa-apa, yang penting
setiap kelas harus penuh. Itu saja target minimal ya? Kita sudah
pakai nama Modern Computer Course, terkenal dengan MCC waktu itu.
Dari namanya sudah bagus lho…modern ha…ha…ha… Itu visi ayah.

Mengapa waktu itu memilih usaha bidang pendidikan, bukan usaha yang
lain?
Sebenarnya di luar usaha pendidikan, karena ayah seorang wirausaha,
itu segala macam usaha pernah dilakukan. Waktu kita kecil, ayah usaha
di bidang distribusi, mengambil barang dari pabrik lalu dijual ke
toko-toko. Lalu pernah jatuh karena ayah ditipu cek kosong waktu itu.
Ibu juga sudah mulai dengan wirausaha makanan. Jadi segala usaha
sudah dilakukan. Terus ayah melihat potensi saya ada, “Ya,
udah…kamu jadi guru saja!” Jadi saya sendiri tidak berpikir ke
usaha yang lain. Karena saya pikir, saya bisanya ya itu.

Dari sebuah kursus, lalu bagaimana cara mengembangkannya hingga
menjadi besar?
Jadi kita mulai dari rumah, paling punya tiga shift, pagi, siang,
malam. Begitu mulai penuh, saya mulai berpikir kenapa tidak
dibesarkan (kelasnya). Tapi kalau itu kan kita perlu uang? Uangnya
dari mana? Ayah bilang, “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan
pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus”.
Beliau berpikir untuk kerjasama dengan panti asuhan di Kramat Raya.
Kita main ke sana terus kita bilang, “Kita punya ide ini, bagaimana
kalau kita share, bagi hasil?” Akhirnya kita mulai, pokoknya semua
pekerjaan kita yang lakukan, nanti dari hasil kalau kita punya hasil
yang lebih, hasilnya kita bagi dua. Kita berpikir kalau kita lakukan
itu, ada suatu nilai sosial yang kita tanam. Jadi di samping usaha,
ada yang kita bantu, panti asuhannya. Filosofinya itu, dan mudah-
mudahan mendapat rahmat Tuhan. Kebetulan ayah juga orang yang sosial.

Perkembangan berikutnya?
Kalau di Kramat Raya kelasnya paralel, kalau yang diteras rumah saya
sendiri yang ngajar. Lalu untuk dibesarkan sebagai sekolah, kelasnya
harus bisa paralel. Berapa pun murid harus bisa ditampung. Jadi
filosofinya itu bagamana supaya kita bisa memenuhi ruangan. Jadi
awalnya kita punya empat ruangan.

Tapi benar…. mungkin karena misi sosialnya ada, perkembangannya
cepat. Kebetulan sekali tarifnya juga murah. Orang mulai ingin tahu
komputer itu apa sih? Jadi banyak sekali yang hadir dan gurunya bukan
saya sendiri akhirnya. Karena saya pernah bekerja di Pertamina, saya
tarik teman-teman. Murid-murid di Pertamina sudah calon guru, kan?
Lalu dari situ maju-maju, walau ada hambatan. Hambatannya waktu itu
pada saat kita belajar, kita menarik guru dari tempat yang sama. Jadi
sempat goyang oleh tuntutan kelompok yang kuat, menuntut suatu
kondisi yang lebih baik. Waktu itu kita waduh… berat juga kalau
bentuk seperti ini diikuti, lain kali diulang lagi, ya? Tapi ya
sudahlah kita mundur, mereka yang main-main seperti itu ndak usahlah,
kita cari staf lain.

Dari situ kita belajar untuk mencari tenaga tidak dari satu tempat.
Akhirnya kita hubungi Departemen Keuangan dan departemen pemerintah
lainnya, banyak yang sudah belajar komputer, kan? Lalu berjalan,
makin banyak muridnya, lalu mereka pada bertanya, “Mengapa bentuknya
kursus-kursus? Kami belajar dapat pengetahuan, tapi kami tidak
mendapat status sosial yang lebih baik?” Kebetulan yang ngambil itu
benar-benar anak yang lulus SMA yang dia tidak ngambil perguruan
tinggi. Beda dengan yang saya mulai di Grogol, anak-anak mahasiswa
yang sudah punya status sosial. Jadi kalau di Kramat Raya itu umum
banget. Jadi anak-anak SMA yang tidak bisa bayar kuliah masuk ke
sana. Itu yang mentriger kita buka akademi saja. Dan kebetulan ayah
termasuk tipe orang yang apa pun kalau dia ditantang, ditangkap. Itu
gaya wirausahanya, “Mana…? Kita buka saja akademi komputer!”

Kapan dimulai?
Sekitar 80-an, ya kita mulai akademi tahun 1981. Saya
bilang…waduh…masih mikir-mikir. Lebih banyak perhitungan. Sulit
dong minta akademi? Karena dari pengalaman di Trisakti, saya pernah
bekerja di sana, banyak sekali mahasiswa demo. Mulai 1974-1980 itu
banyak sekali demo, Malari dan semacamnya itu ya. Karena itu saya
bilang, waduh! Saya paling takut kalau didemo mahasiswa ha..ha..ha…

Sampai sekarang masih takut?
Kalau sekarang tidak. Karena kita belajar banyak dalam pertumbuhan.
Waktu itu sempat terpikir, “Waduh… bagaimana kalau anak-anak yang
tidak tahu filosofi apa-apa tiba-tiba menuntut sesuatu?” Kalau soal
perizinan kita sudah pengalaman sekian tahun. Tapi ayah kan selalu
pantang menyerah. “Jangan khawatir, pokoknya apa yang kamu tidak bisa
sebutkan, saya yang akan lakukan”. Akhirnya benar, dicarikan seorang
tokoh pembina, saya anggap sebagai guru saya juga, yang waktu saya
masih SMA dia tokoh organisasi mahasiswa. Dia posisinya sebagai
direktur kemahasiswaan. Ini strategi ayah. Pokoknya kelemahan saya
dilengkapi ayah. Ya, sudah saya tidak mikir lagi, tabrak saja.

Begitulah 1981 kita mulai akademi. Hambatannya kalau mahasiswa
berkelompok seperti itu. Hambatan lain tetap keuangan. Tapi karena
orang-orang buka usaha itu jiwanya pokoknya jangan takut apa pun.
Kalau masih bisa didefinisikan, pasti bisa diselesaikan. Begitu bisa
didefinisikan, akhirnya ada titik terang. Nah, masalah gedung ayah
bilang, “Dalam dua hari saya akan jawab!” Benar. Begitu saya bilang
itu, langsung dia main ke tempat Akademi Teknik Komputer yang pertama
kita dirikan. Main ketemu pemiliknya, nggak kenal, tabrak aja! Kita
nggak punya uang datang ke situ. Ada gedung kosong di belakang yang
nggak dipakai, kita bilang “Boleh nggak kita pakai gudangnya?” Ya,
kita nggak muluklah nggak pakai gedung yang bagus, seadanya saja.
Nah, kita sudah punya tempatnya. Akhirnya kita nggak bisa mundur.
Saya desain kurikulum, termasuk konsep-konsep administrasi. Dari segi
kurikulum, berpikirnya sederhana.

Bahannya dari mana, karena waktu itu belum banyak acuan?
Belum ada. Mungkin akademi komputer sudah ada Budi Luhur yang duluan
tahun 1978, kita mulai 1981. Jadi kita hanya ada sedikit gambaran.
Karena itu para siswa kursus kita melihat ke situ, “Kami lebih kok
dari mereka, kenapa kita nggak muncul?” Semangat siswanya seperti
itu. “Ya, sudah kalau kalian percaya kita coba”. Jadi kurikulum kita
rancang dengan pendekatan pengetahuan yang mana saya harus bisa
memuaskan semua. Paling mudah, kan? Kalau sampai ada guru yang tidak
hadir, saya datang, saya selalu menjadi pengganti. Saya pikir kalau
ini perguruan tinggi, ada dosen tidak datang, karena kita ingin
melayani mahasiswa, kan saya harus turun? Semua mata kuliah saya
tawarkan. Amankan? Saya sendiri tidak turun mengajar, hanya kalau
ndak ada gurunya saya yang ngajar sekali-sekali. Benar, 1981 kita
mulai, lalu kita rekrut teman-teman dari Trisakti untuk jadi dosen.
Tapi saya tidak ambil angkatan saya, tapi angkatan adik saya.

Apa alasannya?
Tidak tahu, ada suatu feeling yang mengatakan, mungkin saya lebih
mudah mendorong anak-anak yang lebih muda dari saya, daripada teman
sebaya. Jadi saya rekrut adik-adik angkatan saya. Tapi masalah di
tahun-tahun pertama di kampus ini, tiga orang tenaga pengajar tadi
berkirim surat kepada saya, mengundurkan diri. Tiga-tiganya hilang,
padahal mereka pengajar inti dan hebat-hebat. Tapi sudah karakter
saya, kalau ada masalah harus bisa diselesaikan. Ya, tapi saya tidak
berusaha menarik. Saya kalau sudah dibuat seperti itu, ya sudah.
Akhirnya saya turun ke seluruh mahasiswa, saya sampaikan jangan
khawatir kita jalan terus, saya ngajar sendiri.

Mengajar berapa kelas?
Waktu itu kita hanya mengendalikan dua ruangan, jadi minimal saya
harus punya satu partner. Tapi dari guru yang lain, guru part time,
kita masih punya. Akhirnya kita menggunakan part time untuk mencari
pengganti. Itu pengalaman yang nggak boleh diulang.

Kapan mengalami percepatan pertumbuhan dan apa faktor-faktornya? ….
Jadi kalau dari awal, langkah yang kita lakukan adalah berbuat sebaik
mungkin melayani para siswa. Itu strategi yang saya lakukan. Karena
itu tumbuhnya pelan. Sampai suatu saat tahun 1995, kita punya
mahasiswa tujuh ribu, gedungnya kita baru punya satu yang lengkap.
Itu pun dibangun mulai 1984, tiap dua tahun kita menambah ruangan
sampai 1995. Kita mulai program S-2 tahun 1993 sebagai suatu program
untuk mengangkat image, otomatis kita harus merekrut orang yang lebih
baik. Kemudian belajar memenej teman-teman yang pengetahuannya di
atas saya. Nggak gampang juga, susah juga! Biasanya teman-teman di
atas kita, kalau ditarik dia langsung positioning diri, kan? Dari
sisi lebih pengetahuannya oke, karena kita undang memang karena itu.

Tapi kadang ada satu rasa sombong yang mengakibatkan mereka lupa,
dengan meremehkan organisasi kita yang lebih besar. Ini sempat
terjadi. Padahal ini adalah dosen yang kita didik melalui beasiswa
dinas. Itu kegagalan pertama kita menentukan resource. Kita kirim ke
luar negeri untuk S-3 tapi gagal. Itu hampir membalikkan organisasi
kita, sehingga terpaksa kita lepas. Pada saat itu saya bertemu teman
yang mempunyai filosofi berbeda dengan approach yang saya pakai.
Kawan ini bilang, “Kalau kita ingin maju kita harus tentukan ujungnya
dulu, sasaran”. Kalau saya kan didorong dari bawah. Jadi kalau kawan
ini, ditentukan sasarannya dulu, terus kita uber. Sehingga sejak 1995
itu mulai lebih cepat. Sekitar enam tahun berikutnya, dari 7 ribu
mahasiswa menjadi 22 ribu. Ini karena strategi teman tadi yang kita
pakai.

Siapa saja yang mendorong kemajuan tersebut?
Tim inti kita sekarang. Jadi filosofi yang saya belajar dari kawan-
kawan ini adalah kalau mau melakukan sesuatu, lakukan sesuatu yang
besar sekaligus karena capeknya sama. Jangan yang biasa-biasa.

Apa inti strategi Anda sehingga bisa membangun universitas yang pesat
perkembangannya?
Kita memang punya tim inti. Di dalam tim tadi kita selalu mendorong
bahwa sebenarnya kita punya visi. Visi kita adalah menjadi panutan.
Terus pada waktu diskusi, yang disebut panutan itu apa? Harus bisa
jadi contoh kan bagi yang lain? Mengukurnya bagaimana? Nah, kita
harus membuat langkah yang berbeda dari kawan-kawan lain. Langkah
pertama yang kita lakukan adalah ISO. Jadi memakai bakuan mutu ISO
9001 tahun 1997. Pesannya, kita harus beda dengan kawan-kawan lain.
Kalau berbeda harus inovasi, kan? Padahal awalnya kita ISO baru
belajar. Tapi berani dululah.

Setelah berjalan, ISO itu benar-benar suatu konsep yang bagus. Karena
digunakan oleh banyak usaha dan perusahaan. Konsep berpikirnya bagus
dan indah sekali. Antara lain disampaikan, ‘tentukan sasaran yang
ingin Anda capai’, ‘semua sasaran harus bisa diukur’, ‘apa yang Anda
tulis harus bisa dilaksanakan’. Kita belajar banyak dari konsep itu,
bahwa kita tidak boleh berjanji sesuatu yang kita tidak bisa berikan.
Karena itu bisa menjatuhkan kita. Kita harus menanamkan kepercayaan
kepada pelanggan. Kalau kita janji A, harus diberikan A, dan semuanya
harus bisa diukur. Dari situ kita menerapkan konsep-konsep yang
berbeda dari kawan-kawan lain, misalnya pertemuan dalam suatu kelas.
Kita define per kelas dalam satu semester, dan kalau ada dosen yang
tidak masuk, kita harus bisa uber sampai ada kelas. Kalau perlu hari
minggu kuliah. Sekalian ini menanam konsep kepada mahasiswa, kalau
dia dirugikan, dia boleh berteriak kepada kita. Karena ini alat
kontrol, mereka harus berteriak. Memang babak belur.

Babak belurnya?
Babak belurnya, teriakan tahun pertama itu tidak di sektor akademik
saja. Wah…gila juga ini! Kita sudah berusaha merapikan bagian
akademik, teriakannya di bagian-bagian lain. Keseluruhan akhirnya.
Berarti tantangan bagi kita untuk bisa memuaskan para pelanggan kita
di semua sektor. Itu kan input? Dulu kita tidak berpikir sejauh itu.
Jadi itu yang menarik, sehingga kita belajar. Itu yang mendorong
kita. Akhirnya kita membuat suatu plan yang bisa kita definisikan.
Begitu tim berani mendefinisikan, tugas saya nguber tim. Tidak terasa
itu tercapai, yang mengakibatkan pelanggan percaya kembali kepada
tim. Biar pun berat karena kita harus berubah. Kalau tahun ini kita
lebih ingin mengubah konsep berpikir.

Perubahan seperti apa kira-kira?
Kalau kemarin ISO itu tentang tujuan dan sebagainya. Sekarang kita
bisa seperti ini dan diakui masyarakat. Sehingga pengalaman yang kita
rasakan ini, kita ingin turunkan secepatnya kepada para mahasiswa
supaya mereka juga berhasil juga nantinya. Jadi memang di dalam
perjalanan, katakan kalau ada demo mahasiswa saat ini, kalau di
tempat lain pimpinan menghindar, ya. Rata-rata tidak mau menemui,
kan? Kalau kita berpikir karena mereka ini mahasiswa timur, pasti
mereka ingin menyampaikan sesuatu feedback. Kalau mereka ingin
menyampaikan feedback kepada kita, kenapa kita ndak mau menemui?
Justru kita harus cari secepat mungkin. Dan harus dididik
mahasiswanya. “Kalau Anda mau demo boleh, tapi misi demonya apa?
Menyampaikan kritik kepada kita, kenapa tidak bertemu kita?”

Jadi filosofinya yang kita tanamkan. “Kalau Anda mau menyampaikan
itu, ngapain pasang-pasang spanduk atau rame-rame di lapangan? Nggak
sampai juga kalau saya tidak dengar, atau kalau saya pura-pura ndak
dengar. Misinya kan mau menyampaikan, datang saja ketuk pintu. Anda
mau ngomong atau Anda mau marah di sini juga boleh”. Jadi filosofinya
yang kita ubah. Dan cukup baik hasilnya. Mereka itu senang kalau
didengar, ya? Begitu kita dengar, meskipun kita katakan “Sorry saya
tidak bisa melaksanakan yang kamu minta….” Ndak marah juga. Mengapa
kita takut?

Salah satu keberhasilan lembaga ini adalah kerjasamanya dengan
lembaga lain. Bagaimana Anda menjalankan strategi ini?
Memang mengelola pendidikan itu bukan suatu proses yang begitu satu
proses selesai, terus kita selesai, tidak ada after sales. Kalau di
industri kan mereka pakai, begitu jual, ada after sales. Konsep
perguruan tinggi kan nggak? Lepas dari perguruan tinggi itu urusan
masing-masing. Dia tak berhasil ya dukamu, dia berhasil ya untungmu,
begitu konsep umum, ya? Cuma kita berpikir, kalau mereka tidak
berhasil, ya kita sedikit berdosa, kan? Artinya kita salah dong dalam
mengarahkan mereka? Iya, kan? Jadi kita berpikir, minimal kita kasih
senjata sedikit lagi dong! Yang harus kita lengkapi, yang dia
kemampuan minimalnya secara cepat bisa sama dengan pasar. Karena itu
kita mulai bekerjasama dengan Cisco, Microsoft, IBM, itu antara lain.
Tujuannya adalah mentransfer pengetahuan-pengetahuan up to date yang
mereka pakai di dunia usaha ini untuk bisa dikuasai oleh mahasiswa.
Biar pun itu tidak masuk di kurikulum. Kurikulum kan kita bingung
karena diatur pemerintah. Itu dipasang kan beban berat?

Soal kurikulum dalam konsep Anda, apa saja yang perlu ditambahkan?
Dari segi kurikulum kalau zaman dulu kan banyak diatur pemerintah.
Tapi sekarang sudah banyak kelonggaran. Sehingga kita melihat,
wah…. ini lebih mudah lagi untuk mencapai tujuan dan sasaran kita.
Yang sebenarnya kita lakukan dalam kurikulum ini, akhirnya kembali ke
prinsip lagi. Filosofi dasar yang harus kita tanam kepada mahasiswa
adalah suatu pengantar untuk belajar. Apa pun ilmunya, jadi bagaimana
cara kita mendidik mahasiswa tentang cara belajar untuk belajar. Ini
yang tidak ada di dunia pendidikan. Sekarang ini yang saya lihat,
karena banyak dosennya yang part time akhirnya ‘pokoknya aku
ngajar…ngerti sukamu nggak ngerti sukamu’.

Dampaknya nggak ada inovation. Kondisi mahasiswa sekarang kalau tidak
disuruh tidak jalan, nggak ngerti inovation. Belajar pun biasa
dikebut dua hari, kalau nilainya tinggi ada kebanggaan. Makanya kita
adakan perubahan total. Jadi konsepnya, materi tidak harus habis,
yang penting cara belajarnya bisa tertanam. Sehingga mereka bisa
belajar lebih banyak daripada apa yang kita berikan. Otomatis ya,
semangatnya harus ditanamkan, cari bacaan sebanyak mungkin, cari
informasi sebanyak mungkin. Kebetulan saya kemarin mencoba dalam
kelas entrepreneur, capek! Capeknya, pada awal di kelas saya
tanya, “Ini kalian masuk kelas entrepreneur karena Anda mau jadi
entrepreneur atau karena dipaksa oleh sistem kita?”.

Dan jawaban mereka?
Jawabnya, “Kami diwajibkan…” Wah, saya kecewa. Padahal saya
mengorbankan waktu malam untuk mengajar mereka. Saya bilang, “Kalau
Anda hanya untuk pengetahuan dan tidak untuk diterapkan, saya rugi!”.
Lalu saya balik, “Di akhir kelas saya ingin Anda mengubah konsep
bahwa akhirnya Anda ingin jadi entrepreneur, karena Anda tahu semua
cara entrepreneur itu bagaimana”. Lalu kita kasih PR (pekerjaan
rumah), otomatis dong, proses belajar kok. Apa yang harus Anda
belajar, topiknya ini, belajar buku ini, cari dari internet ini, di
kelas kita tidak ngajar. Saya anggap di kelas itu mereka sudah
belajar, kita bicara suatu topik, tinggal mereka menentukan apa yang
mau didiskusikan. Lalu saya undang para wirausahawan dan dunia
industri, dan mereka boleh menggali sebanyak mungkin dari background
pengetahuan minimal yang mereka pakai.

Jadi pada awal bagaimana, perlu uang apa nggak, wirausaha, kan? Dan
akhirnya mereka melihat bahwa teman-teman yang kita datangkan
semuanya memulai usaha tanpa uang. Semua start dari zero. Maka begitu
akhir kelas mereka membuat business plan, disuruh presentasi, sudah
hebat-hebat. Nilai kita umumkan, lalu saya inginkan feedback; “Apakah
Anda ingin jadi entrepreneur?” Semua bilang oke, malah ada yang sudah
berpikir “Saya mau di industri ini, ini, ini…”. Ada juga yang
bilang, “Ini adalah proses belajar yang paling menyenangkan yang
pernah saya alami…” Sudah bagus, kan? Padahal kita nggak ngajar,
hanya skenario kita buat sedemikian rupa dan mereka sendiri yang
belajar. Tapi dampaknya mereka merasa itu yang paling tinggi
nilainya. Jadi memang prosesnya yang harus diubah di perguruan tinggi
itu.

Dunia pendidikan adalah dunia idealisme. Sementara pendidikan sendiri
jika tidak dikelola secara profesional juga tidak jalan. Bagaimana
Anda menyeimbangkan keduanya?
Sebenarnya terpisah. Sisi idealisme kita bukannya membentuk lulusan
istilahnya, tapi memvalue-added. Menanamkan suatu value added kepada
mahasiswa yang masuk sehingga menjadi lulusan, itu adalah pengetahuan
dan nilai-nilai. Itu yang kita tanamkan. Itu idealismenya. Jadi usaha
yang kita lakukan dalam memenej pengetahuan yang kita tanam tadi, dan
itu yang disebut bisnisnya ya, mengelolanya. Kalau kita compare,
mengelola perguruan tinggi dengan mengelola bisnis itu sama. Tidak
ada bedanya. Kan di situ ada faktor finance, ada faktor operasional?
Bedanya, kalau di pabrik kan dia milih barang mentah dikelola menjadi
barang jadi. Kalau di rumah sakit ya menyembuhkan penyakitnya. Kalau
di kita kan hampir mirip dengan di rumah sakit. Umumnya kita menambah
value, itu yang kita garap. Di bisnis sama, tidak beda ya? Makanya
teman-teman banyak yang mengatakan, kalau mengelola perguruan tinggi
dengan gaya bisnis itu seolah-olah berdosa. Banyak yang mengungkapkan
demikian. Tapi kalau filosofinya bagaimana kita berusaha dengan
profesional untuk supaya targetnya tercapai, sama (dengan bisnis:
red). Kawan-kawan di dunia industri tetap bilang ini bisnis ya.

Cuma bisnis yang muatannya lain?
Ya, tetap ada suatu nilai idealismenya. Ya, memang harusnya bisalah.

Ke depan, cita-cita apalagi yang ingin Anda wujudkan setelah dari
semua yang Anda bangun selama ini?
Kalau di perguruan tinggi kita kan mencoba memberikan contoh, dan
kebetulan ini kegiatan terbesar yang kita lakukan. Ternyata kalau
kita menerima mahasiswa masuk, banyak konsep berpikir yang salah yang
ditanamkan di pendidikan sebelumnya. Di keluarga kita tidak bisa
mempengaruhi karena itu hak masing-masing keluarga. Minimal yang di
sekolah-sekolah di tingkat bawahnya. Yang paling mendasar dampak yang
kita rasakan di perguruan tinggi adalah kemampuan bertanya. Waduh…
mahasiswa yang berani bertanya… takut kan mereka bertanya? Karena ini
budaya. Padahal budaya bertanya itu, kalau mereka bertanya mereka
bisa explore segala macam. Minimal dia akan bertanya terus pada diri
sendiri. Itu akhirnya kita berpikir, kita harus memberi contoh juga
pada tingkat di bawahnya.

Jadi kita akan mendirikan sekolah. Tapi model kita tidak akan
berbentuk seperti yang sudah ada. Biar pun model ini kalau kita lihat
layer kita masih pasang di layer atas. Karena kita belum berani
pasang di layer bawah ditinjau dari segi ekonominya. Tapi suatu saat
kita akan turun jugalah. Jadi kita masih pakai yah…menanamkan ini
pada yang atas karena kita juga lagi belajar ya? Proses belajar kan
harus berhasil? Jadi kita menanamnya di atas, mungkin pengalaman ini
nanti akan coba kita turunkan sebagai model. Mudah-mudahan model ini
tidak kalah di perguruan tinggi, secara cepat kalau ikut program
lain. Kalau ini dilewati Indonesia akan bangun lebih cepat, kan?

Hal apa yang paling memotivasi Anda untuk berkarya di bidang ini?
Pada awal berdiri kita punya moto, bahwa kita ingin berperan
membangun bangsa melalui pengetahuan. Namanya kebetulan juga Bina
Nusantara. Itu pun nama yang diberikan kawan-kawan seperjuangan ayah
di masa penjajahan. Dan itu menjadi spirit seluruh civitas akademik
kita. Itulah kenapa dinamakan Bina Nusantara, karena kita punya cita-
cita melalui pendidikan ini kita harus bisa berperan membangun bangsa
Indonesia. Itu folosofi yang ditanamkan oleh penasihat kawan
seperjuangan ayah. Pada awal mulai mereka juga bilang, “Jangan
mengecewakan kami ya? Jika Anda mengundang kami, ikuti apa pun
tujuan, visi. Jangan sampai Anda hanya pinjam nama tetapi tidak
bertanggung jawab!” Itu yang selalu kita ingat. Memang masa itu waktu
kita tumbuh, semua perguruan tinggi pakai nama leader ya…jenderal dan
sebagainya. Kalau sekarang sudah hilang ya. Cuma saya bilang waktu
itu, “Saya tidak akan pernah mencatut nama. Karena tidak ada
gunanyalah nama-nama yang dipasang!” Iya, toh? Sampai hari ini kita
tidak pernah pasang.

Kalau spirit dari dalam Anda sendiri?
Kalau visi dasar saya sebagai individu adalah bagaimana saya melayani
banyak orang, sehingga mereka bisa berguna bagi negara dan bangsa
ini. Yang menjadi panutan paling kuat bagi saya adalah Ibu Theresa.
Sentuhan kemanusiaannya…

Bagaimana Anda memaknai perjalanan hidup dan kesuksesan ini?
Saya merasakan bahwa apa pun yang kita capai saat ini adalah bukan
dari individu. Kadang-kadang saya berpikir bahwa Binus ini bukan
milik saya, tapi Binus ini milik Tuhan yang dipercayakan kepada saya.
Sehingga saya harus jaga baik-baik, sehingga ya tidak mengecewakan
Pemiliknya…. Filosofi sebenarnya itu. Lebih mudah, kan? Dari pada
kalau milik kita, kita bisa nggak tidur! Iya, kan? Kalau dibalik
seperti itu, ini hanya milik Yang di Atas, kita hanya diberi
kepercayaan, kan kita tinggal membagikan itu kepada kawan-kawan yang
lain dan mereka rata-rata ikut setuju. Lebih enak lagi, kan? Sehingga
gerakannya saya bilang, “Saya bukan tipe seorang pemimpin yang akan
memonitor day to day apa yang kalian lakukan, tapi yang ingin saya
tanamkan adalah bahwa pengawasnya bukan saya, pengawasnya adalah
Pemiliknya”. Lebih enak lagi, kan? []

Entry filed under: Tokoh Lokal. Tags: .

Doddy Sularso Bangun, pengusaha Sari Tebu Murni Warung Indomie Abang Adek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SEMANGAT..!!

blog ini merupakan kumpulan kisah nyata orang orang yang sukses di bidangnya.. semoga menjadi inspirasi.. :) Kumpulan Biografi Orang Sukses ini dikumpulkan dari berbagai sumber, jika ingin berpartisipasi kirimkan cerita orang sukses anda ke redaksi kami

Jumlah Tamu

  • 30,022 Kunjungan

Paling Sering Di Klik

  • None

%d bloggers like this: